Channel Telegram Hamas Kebanjiran Follower usai Serbu Israel admin, Agustus 21, 2023 Kanal Telegram kelompok militan Palestina, , kebanjiran pengikut alias follower usai melakukan serangan mendadak ke pada Sabtu (7/10). Salah satu akun milik Brigade al-Qassam, unit bersenjata gerakan Hamas, pada dalam Telegram mengalami peningkatan pengikut hingga tiga kali lipat. Selain itu, akun yang tersebut mengalami peningkatan satu puluh kali lipat dalam jumlah total agregat penayangan video lalu konten lain yang mana dipostingnya. Hamas dikategorikan sebagai organisasi terorisme asing oleh Amerika Serikat. Jika merujuk undang-undang internet Uni Eropa, media sosial besar bisa saja jadi menghadapi hukuman sebab menjadi tuan rumah bagi konten terorisme. Raksasa teknologi seperti Meta serta juga Google sudah pernah dijalani melarang akun Hamas. Namun Telegram, perusahaan yang dimaksud didirikan oleh orang pengusaha Rusia yang berbasis dalam dalam Dubai, memutuskan untuk mengizinkan kelompok itu untuk terus menggunakan layanannya. Sementara X, yang dimaksud mana sebelumnya bernama Twitter, mengatakan merekan juga melarang Hamas kemudian telah lama terjadi menghapus “ratusan” akun yang digunakan mana berafiliasi dengan Hamas. Kendati demikian, pekan lalu, Uni Eropa mengumumkan pihaknya membuka penyelidikan terhadap perusahaan hal hal itu terkait disinformasi serta konten ilegal tentang konflik Israel lalu Palestina pada platformnya. Popularitas Telegram Saluran Telegram milik Brigade al-Qassam mempunyai sekitar 200 ribu pengikut pada saat serangan terjadi. Pengikut saluran ini kemudian meningkat lebih lanjut besar dari tiga kali lipat, menurut analisis dari Laboratorium Penelitian Forensik Digital Atlantic Council. Sebelum serangan, unggahan oleh saluran yang tersebut disebut dilihat rata-rata sekitar 25 ribu kali. Sekarang unggahan saluran yang digunakan disebut dilihat lebih lanjut lanjut dari 300 ribu kali, meningkat lebih lanjut banyak dari 10 kali lipat. Saluran lain yang dimaksud dimaksud mengunggah pesan video dari juru bicara Hamas mempunyai sekitar 166.000 pengikut sebelum tanggal 7 Oktober lalu juga sekarang memiliki lebih tinggi lanjut dari 414.000 pengikut, menurut Memetica, sebuah perusahaan analisis ancaman siber. Menurut pakar Trust and Safety Brian Fishman, Telegram menjadi populer pada tempat kalangan kelompok-kelompok ekstremis internasional lalu juga kelompok-kelompok sayap kanan di area area Amerika Serikat akibat aturan moderasi kontennya yang mana digunakan sangat longgar. Mengutip CNN, popularitas Telegram, yang dimaksud dimaksud disebut miliki sekitar 800 jt pengguna, di tempat dalam AS mulai tumbuh setelah serangan pendukung Trump ke Gedung Kongres AS Januari 2021. Para penyebar teori konspirasi pemilihan umum mulai menggunakan wadah digital ini setelah merekan dikeluarkan dari Facebook juga Twitter. Fishman mengatakan sekalipun pertumbuhan besar total keseluruhan orang yang digunakan mengikuti akun Telegram Hamas mengkhawatirkan, bukan berarti semua orang adalah pendukung Hamas. Menurutnya, banyak pengikut yang dimaksud disebut merupakan jurnalis, peneliti, juga banyak lainnya. Meski demikian, Fishman mengatakan Telegram dapat menjadi alat propaganda yang tersebut digunakan efektif. “Saya pikir ini sangat memprihatinkan ketika sebuah kelompok dapat menyampaikan pesannya kepada orang-orang yang digunakan tambahan luas.” “Dan beberapa dari dia akan menjadi pengganda kekuatan sebab mereka itu itu akan mengambil materi yang tersebut disebut juga juga merekan akan mengunggahnya pada area media lain. Itulah model yang digunakan mana kita lihat dengan ISIS,” tandas dia. Terlepas dari itu, Caitlin Chin-Rothmann, peneliti teknologi pada lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS), Washington, AS, mengungkapkan pada prinsipnya semua jaringan media sosial tak siap untuk menghadapi gempuran misinformasi era perang Hamas-Israel. “Platform-platform media sosial tidaklah siap menangani membanjirnya konten palsu juga juga berbahaya seputar serangan Hamas,” tulisnya dalam area situs lembaga. Ia mengungkap Hamas memanfaatkan kekacauan hal hal itu dengan memasang gambar-gambar kekerasan eksplisit pada X lalu Telegram, yang dimaksud dimaksud mengikuti tren organisasi-organisasi ekstremis sebelumnya. Meski X mengaku memblokir beberapa akun yang mana hal tersebut berafiliasi dengan Hamas, Chin-Rothmann mengatakan banyak pengguna internet yang dimaksud dimaksud mengunggah ulang gambar-gambar tersebut dan menyebar “dengan cara yang mana lebih lanjut banyak terdesentralisasi.” “Untuk menghindari kekacauan tambahan banyak lanjut, perusahaan-perusahaan teknologi perlu meningkatkan algoritma moderasi konten secara signifikan, meningkatkan sistem pelaporan pengguna, memperluas kompetensi budaya kemudian bahasa, juga meningkatkan tingkat kepegawaian secara keseluruhan,” tandas dia. Teknologi hamashoaksmedia sosialmedsospalestinaperang israel palestinatelegram